Baterai Ramah Lingkungan Ala Popeye

Sekelompok ilmuan MIT berhasil mengembangkan baterai ramah lingkungan. Mengadopsi proses energi fotosintesis pada tumbuhan hijau. Bisa di bayangkan bila popeye hidup yanpa bayam. Mana mungkin badan si pelaut yang krempeng itu tiba-tiba bertonjolan otot bisep dan trisepnya. Mana mungkin pula diya bisa kuat melawan brutus, Perampok berbadan bongsor yang suka iseng menculik oLive, pacar Popeye. Tapi dengan menegak sari bayam, Popeye bisa. Kisah pelaut nan lucu itu memang cuma cerita kartun. Di dunia nyata, kehebatan bayam ternyata tak sekedar sumber vitamin belaka. 😉

           Seperti yang di ungkapkan para ilmuan MIT (Massasuchete Institute Of Technology) Amerika baru-baru ini. Mereka berhasil mengembangkan energi alternatif masa depan bagi piranti digital yang ramah lingkungan berbahan dasar bayam. Meski terdengar ajaib, namun ide awal yang mendasari penemuan ini terbilang sederhana, yakni proses evolusi tumbuhan. dari ide sederhana ini, kemudian mereka membuat piranti elektrostatis yang di sebut SPINACH SANDWICH. Peranti ‘aneh’ ini di buat dengan dasar protein kompleks bernama fotosistem I (PS I) yang berperan sebagai jantung mesin. Dengan ukuran lebar tiap PS I antara 10-20 nanometer, peranti elektrostatis ini dikumpulkan dari sekitar 100 PS I. Hebat nya peranti buatan ini diklaim bisa menyuplai energi untuk laptop dan ponsel selam sehari. Menurut Nano Letter, sebuah media publiaksi American Chemical Society, Baldo dan periset lain dari MIT, University of Tennessee dan Laboratorium Angkatan Laut Amerika, termaksud di daalam nya insinyur elektro, biomedis, ahli tekhnologi nano, dan biolog bekerjasama menghasilkan sel surya fotosintesis. Penelitian ini tambah Nano Letter, mengambil ide dari kemampuan tumbuhan menghasilkan energi untuk berevolusi selama hidupnya. Bayam, sebagai saalh satu tumbuhan hijau dinilai sangat efisien, bila mana dilihat dari jumlah energi yang dihasilkan dibandingkan berat dan ukuran bayam itu sendiri. “kami berhasil menggabungkan molekul fotosintetik protein kompleks dengan sebuah peranti elektrostatis,” kata Baldo.

           Namunkeberhasilan penggabungan material biologis dan nonbiologis tersebut tidak melalui proses sederhana. Hal ini disebabkan perbedaan sifat yang bertolak belakang antara material biologis dan elektronik. Material Biologis butuh garam dan air agar tetap bertahan , tetapi sebaliknya sangat dihindari oleh perangkat elektronik. untuk menghindari tercampurnya kedua bahan tersebut, sebuah membran baru peptida , seperti bahan utama deterjen dikenalkan. Fungsi membran ini membantu proses fotosintesis dan menstabilkan sirkuit elektronik saat berada di pabrikasi. Para periset MIT menggunakan peptida temuan Shuguang Zhang, Seorang Associate director MIT’s Center for Botanical Engineering. Denagn peptida deterjen temuan Zhang ini , periset MIT dapat menstabilkan protein kompleks dalam lingkunagn kering setidaknya hingga tiga minggu. Dalam peranti elektronis ini lapisan paling bawah terbuat dari kaca transparan yang di lapisi material konduktif. Selapis tipis emas membantu reaksi kimia klorofil PS I, kemudian semi konduktor yang menjaga arus elektronik dan membentengi protein kompleksdari metal yang menutupi sandwich ini. Selanjutnya sinar laser disorotkan untuk memicu bangikit nya tenaga optis , yang kemudian diserap dan menjadi arus listrik untuk isi ulang baterai tersebut. Para periset ini berharap ke depan bisa mendapatkan efisiensi konversi tenaga listrik hinga 20 persen atau lebih dengan membuat banyaklapisan PSI.

Selular, No. 56, November 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s